Hidup Kekal dan Kepedulian

Pemb. Alkitab  :  Lukas 10 : 25 – 37  

Orang sombong cenderung untuk menguji apakah orang lain itu lebih pintar dari dia atau tidak, dan cenderung tidak akan pernah mau mengakui kelebihan orang lain apalagi kelebihan itu bertujuan untuk menutupi dan mengisi kekurangan hidupnya. Orang sombong itu banyak kali mengabaikan kata hatinya, lebih banyak menggunakan logika berpikirnya. Dalam membangun relasi, orang sombong cenderung berpikir kebaikan dan kebahagiaan diri sendiri dan suka menggurui orang lain.
Kesombongan dan ingin pamer diri dihadapan Yesus juga menguasai ahli taurat dalam bacaan ini. Dia ingin sekali menunjukan bahwa keahliannya mengusai taurat memperlihatkan kesalehan dan kedekatan hubungannya dengan Allah. Beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Yesus dan dijawab oleh Yesus, justru memperlihatkan kekurangan dan kelemahanya dihadapan Tuhan Alllah sebagai seorang ahli taurat perihal memperoleh hidup kekal dan menjadi sesama yang baik. Yesus mengajarkan kepada ahli taurat melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati.

Yang dapat kita maknai dari pengajaran Yesus melalui cerita perumpamaan ini :

  1. Banyak sekali kita tidak hidup berpegang dan atau mengimplementasikan nilai-nilai dari sebuah hukum atau aturan yang mengatur tatanan hidup bersama. Pertumbuhan gerejapun terkadang tidak berpegang pada tata gerejanya atau kehidupan bergerejanya.
  2. Kita menghadapi realita dalam era demokrasi NKRI tercinta : ada kelompok tertentu atas nama agama dan politik, begitu semangat dan gigih berjuang untuk menggantikan Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dengan dasar dan falsafah yang lain. Hal ini merusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara di NKRI.
  3. Terkadang gereja baik itu para pelaku pelayanan maupun jemaatnya masih menjadi kelompok ortodoks yang mengutamakan aturan dan tradisi gerejawi dari pada kepekaan dan hati yang berbelas kasihan kepada sesama yang membutuhkan, bahkan tertutup hatinya.
  4. Bagaimana supaya orang percaya memperoleh hidup yang kekal? Yaitu memiliki dan mengimplementasikan hukum kasih dalam membangun kepekaan terhadap sesama dan alam ciptaanNya sehingga gereja menjadi penolong dan agen kasih dalam hidup bersama, berbangsa dan bernegara.

Pergilah dan perbuatlah demikian maka engkau akan hidup.

Amin.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*