Renungan Minggu

Belajar dari Maria – Kesederhanaan dan Kerendahan Hati

Diposkan pada

Belajar dari Maria : Kesederhanaan dan Kerendahan Hati

Lukas 1:26-38

Oleh: Pdt. Judith Nunuhitu-Folabessy, M.Si

 

Kelahiran Yesus adalah hal yang sangat dinanti-nantikan. Dan hal ini merupakan berkat bagi seluruh umat manusia karena melalui kelahiranNyalah seluruh umat boleh mendapatkan karya penyelamatan. Mari kita lihat bagaimana proses penyelamatan itu terjadi;

  1. Allah yang berinisiatif

      Ketika Allah melihat manusia telah jatuh kedalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah maka Allah berinsiatif untuk mengutus anaknNya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkan dunia.  Kemudian Allah mewujudkannya dengan mengirim malaikat kepada maria untuk menyatakan maksud Allah terhadap dirinya dan dunia ini.  

  1. Allah menyeleksi

Ada proses yang mendahului sebelum Maria diputuskan untuk menjadi saluran berkat Allah. Ada sebuah pengamatan dan juga seleksi yang cukup ketat sampai akhirnnya Marialah yang dipilih. Kalau kita lihat dari salam yang malaikat kepada Maria maka kita akan mendapati beberapa hal yang menjadi keunggulan Maria. (1) dikenal Tuhan (salam bagi engkau yang dikaruniai), (2) perawan – kekudusan.

  1. Allah memberikan kehendak bebas (free will)

Di dalam melaksanakan misiNya, Allah selalu memberikan kehendak bebas bagi manusia untuk memilih. Saat memilih Maria, dimata Allah ia lolos seleksi tetapi Maria tetap diberikan kehendak bebas untuk menerimanya atau tidak. Dan didalam kehendak bebasnya, Maria memilih untuk taat kepada apa yang Allah rancangkan dalam hidupnya pada saat ia berkata; ‘sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’

Semua proses ini terjadi untuk menyambut kelahiran seorang yang istimewa. Anak Allah yang maha tinggi. Ia lah raja untuk selamanya dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan. Ia kudus. Namanya Yesus. Kalau demikian maka kita tahu bahwa persiapan-persiapan yang kita lakukan dalam masa Adven ini adalah persiapan untuk menyambut sang raja yang kudus dan maha tinggi yaitu Yesus.

Kalau Maria dipilih karna kekudusan hidup dan pengenalannya akan Allah maka hal yang samapun akan diukurkan bagi kita semua. Kitapun harus mengisi masa Adven ini dengan menjaga kekudusan hidup sebagai umatNya dan teruslah bertekun didalam pengenalan akan Allah sehingga pada akhirnya kita menjadi orang-orang yang di sebut berbahagia.

Tuhan Yesus memberkati.

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Menanti dalam Hikmat

Diposkan pada

MENANTI DALAM HIKMAT

Matius 25:1-13

Oleh: Pdt. Judith Nunuhitu-Folabessy, M.Si

 

Penginjil Matius memulai perikop ini dengan sebuah pernyataan “pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama…” hal ini ingin menjelaskan bahwa perikop ini adalah salah satu perumpamaan tentang kerajaan sorga.  Ada 2 sikap yang ditunjukkan tentang hal itu, yaitu sikap gadis-gadis yang bijaksana dan sikap gadis-gadis yang bodoh dalam menyongsong mempelai laki-laki.

Mereka bersama-sama dalam proses ini, tetapi gadis-gadis bodoh hanya membawa pelita dan tidak membawa minyak sedangkan gadis-gadis bijaksana membawa pelita beserta minyak dalam buli-buli mereka.

Ternyata menantikan sang mempelai butuh waktu yang cukup lama sehingga mengantuklah mereka dan tertidur. Pada waktu tengah malam barulah terdengar suara : mempelai datang! Songsonglah Dia! Merekapun terbangun dan bersiap-siap. Tetapi minyak gadis-gadis bodoh habis sehingga mereka harus membelinya dan akhirnya mereka tidak bisa masuk dalam ruang jamuan kawin karna pintu telah ditutup saat mereka kembali. Mere ka coba mengetuk tapi sang tuan berkata; Aku tidak mengenal engkau.  Sedangkan gading-gadis bijaksana menikmati perta jamuan kawin yang sudah mereka tunggu-tunggu.

Perumpamaan ini ingin menolong kita untuk mengambil sikap dalam masa penantian akan ang mempelai yang akan menyambut kita dalam jamuan kawin kelak. Sikap kita hari ini akan menentukan apakah kita akan masuk dalam jamuan itu atau tidak.

Oleh akrena itu kita perlu belajar beberapa fakta tentang hari kedatangan Tuhan;

  1. Waktu itu akan tiba tapi Kita tidak pernah tahu kapan waktu itu tiba, bahkan hari maupun masanyapun tidak (13b). Untuk sesuatu yang pasti dalam waktu yang tidak kita tahu maka sikap kita hanyalah berjaga-jaga.
  2. Menanti kedatangan Tuhan bisa membuat minyak kita habis dan pelita kita mati. Kalau demikian yang bisa kita buat selama masa penantian ini adalah bijaksana mengelolah hidup. Pelita kita harus menyala. Kita harus menjaga apinya. Karna itu pastikan minyak harus tetap ada. Kalau ada sumbu yang kotor, guntinglah segera. Sehingga api dalam pelita akan tetap menyala.
  3. Waktu itu datang begitu cepat. Persiapan hanya dilakukan sebelum waktu itu. Ketika tiba waktunya, kita hanya tinggal menyambut sang mempelai dan masuk dalam perjamuan itu. Kalau demikian jangan sia-siakan waktu yang terbatas ini. Pakai waktu anugerah Tuhan sebaik mungkin sehingga saat itu Ia akan berkata : masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu.

 

Tuhan Memberkati…!!!

SELAMAT MENGHAYATI MINGGU-MINGGU ADVENTUS &

SELAMAT MENYIAPKAN HATI MENYAMBUT YESUS

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Menanti Dalam Pertobatan

Diposkan pada

Thema : “Menanti Dalam Pertobatan”

(Markus 1:1-8)

Oleh: Pdt. JudithNunuhitu-Folabessy, M.Si

 

Menanti adalah hal yang banyak kali mewarnai kehidupan kita. Ketika berniat untuk menikah, kita menanti pasangan yang tepat. Ketika mendambakan keturunan, kita sabar menanti. Ketika ingin mendapat pekerjaan, kita menanti dengan setia, dsbnya. Artinya ada banyak aktivitas hidup kita yang kita lewati dengan menanti.

Hari ini untuk kesekian kalinya, kitapun masuk dalam masa penantian ADVEN. Masa Adven adalah masa di mana kita diajak untuk menatap ke depan. Jadi orang yang menanti adalah orang yang mengarahkan hati pada apa yang diharapkan akan terjadi.

Tetapi yang unik adalah, pada masa Adven tidak hanya mengajak kita menatap ke depan. Masa Adven juga mengajak kita menengok ke belakang. Merayakan Adven adalah menantikan apa yang masih akan terjadi, dan sekaligus memperingati apa yang telah terjadi. Merayakan Adven adalah menanti sekaligus memperingati Tuhan yang datang, yang dalam PL (kitab Yesaya) digambarkan sebagai Tuhan yang akan memberikan pembebasan dan penghiburan bagi umat yang sedang mengalami penderitaan.

Tuhan yang akan membebaskan umat dari penderitaan itu oleh Injil Markus disebut “Dia Yang Berkuasa” yang akan membaptis umat dengan Roh Kudus (Markus 1:7-8). Tuhan ini adalah Mesias, Yesus yang disebut Kristus, karena Dialah yang dipilih dan diurapi Allah menjadi Penyelamat dan Tuhan.

Lalu bagaimana caranya kita mengisi masa penantian ini?

  1. Mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Seruan ini sekaligus mengajak kita semua untuk menyiapkan atau merapikan hidup kita menyongsong kedatangan Sang Mesias. Kita harus terus mengarahkan hidup kita kepada perwujudan pengampunan, kasih, perdamaian dengan semua orang. Karna sang Mesias adalah raja damai.

  1. Bertobatlah dan Beri diri dibaptis

Kata “bertobat” yang dipakai disini artinya “berbalik”. “Berbalik” bukan menyangkut daya pikir atau “mengubah pikiran”, tetapi menyangkut manusia seutuhnya, pikiran, perasaan, sikap, dan cara hidup manusia. Tanda dari pertobatan itu adalah baptisan.

Oleh karena itu, marilah kita mengisi masa-masa penantian/adven dengan mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan bertobatlah.

 

Tuhan memberkati !!!

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Pendidikan Iman dalam Jemaat

Diposkan pada

Pembacaan Alkitab : Lukas 2 : 41-52

Kisah Yesus pada umur 12 tahun dalam Bait Allah ialah kisah yang mengingatkan kita betapa pentingnya pendidikan iman dalam jemaat. Yusuf dan Maria  melakukan sebuah kebiasaan dalam hidup yakni : tiap-tiap tahun merka pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah (ayat 41). Kebiasaan merayakan hari raya Paskah setiap tahun adalah bukti salah satu  upaya mewujudkan pendidikan iman dalam hidup berjemaat  (persekutuan). Kenyatan ini sebenarnya mendidik umat untuk taat dan secara terus menerus membiasakan dan mengajarkan makna perayaan hari raya Paskah bagi generasi ke generasi. Kerelaan berhimpun di Yerusalem sebagai pusat peribadatan umat dengan meninggalkan kesibukan hidup dan menempuh perjalanan yang tidak mudah dan jauh adalah bukti dari kesuksesan pendidikan iman umat.

Nilai pendidikan iman inilah yang kemudian dibuktikan oleh Yesus (sosok seorang anak yang berusia 12 tahun) mau dan rela duduk berlama-lama untuk mendengar apa yang diajarkan Ahli Taurat dan bertanya kepada mereka. Sikap mendengar dan  bertanya/berdialog adalah sikap yang sangat bermanfaat dalam pendidikan iman umat. Tidak hanya itu kerelaan para Alhi Taurat untuk mengajar dan berdialog dengan seorang anak adalah upaya melaksanakan pendidikan iman bagi umat. Demikianpun jawaban Yesus memiliki sarat makna pendidikan iman yakni kesediaan berada di rumah Tuhan dan penyerahan hidup pada Tuhan. Keputusan Yesus pulang bersama Yufuf dan Maria ke Nasaret memberikan keteladanan kasih seorang anak kepada orang tuanya. Pendidikan iman yang baik dan benar pada akhirnya berdampak pada kehidupan umat yang semakin mengagumkan bagi banyak orang bahkan dunia. Sama seperti Yesus, sosok yang berumur 12 tahun itu bertambah besar dan bertambah hikmatnya, dikasihi Tuhan dan sesama. Amin. **

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Pendidikan Iman dalam Keluarga

Diposkan pada

Pemb. Alkitab  :  Ulangan 6 : 1 – 9

Kitab ulangan melanjutkan kisah umat Allah yang sudah dimulai dalam kitab Keluaran. Dipenghujung masa tugas nabi Musa, ketika umat Israel hampir sampai dipenghujung perjalanan dan memasuki tanah perjanjian nabi Musa mengumpulkan umat itu, dan sekali lagi mengajar mereka serta mengingatkan kembali sejarah panjang perjalanan mereka khususnya perjalanan mereka bersama Tuhan. Nabi Musa menegaskan, pertama bahwa apa yang dia ajarkan itu adalah ketetapan dan peraturan yang diberikan oleh Tuhan sendiri, dan mereka harus perhatikan dan melakukannya dengan setia. Kedua yang menjadi titik perhatian adalah mereka harus “mengajarkannya” kepada anak-anak mereka. Pengajaran itu harus dilakukan berulang-ulang, dengan cara membicarakan dimana saja dan kapan saja.
Ulagan 6 : 1-9 sering disebut sebagai “Syema Yitsrael” panggilan umat Israel untuk mendengar dan melakukan firman Tuhan. Ayat ini penting bagi kehidupan beriman umat Israel. Mereka melafalkan syema 3 x sehari, dan tidak ada penyembahan pada hari sabat di rumah ibadah tanpa melafalkannya. Syema ini merupakan pengakuan iman monoteisme Israel yang paling mendasar.

Kesimpulan :

  1. Warga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, ada proes berinteraksi melalui perjumpaan nilai-nailai yang baik dan jahat karena itu tugas keluarga untuk mengingatkan anak-anak sangatlah penting agar tidak terpengaruh dengan perkembangan zaman yang tidak menyenangkan hati Tuhan.
  2. Peran keluarga sebagai gereja mini adalah menjaga sikap moral etik yang berlandaskan pengajaran iman kristiani yang baik, guna mebentengi keluarga terhadap pengaruh negatif yang dapat merusak moralitas keluarga.
  3. Komitmen menjadikan keluarga sebagai basis keluarga pendididikan guna menyamaikan ajaran Tuhan sejak dini bagi anaka-anak secara terus menerus supaya pada masa tuanya tidak menyimpang dari ajaran Tuhan.
  4. Fokus pendidikan keluaraga adalah menjadikan keluarga hidup mengasihi Tuhan dengan segenap hati jiwa dan dengan segenap kekuatan yang terwujud melalui ketaatan dan komitmen.

    Amin. **

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Pendidikan untuk Hikmat Kehidupan

Diposkan pada

Pemb. Alkitab  :  Amsal 4 : 1 – 13

Menurut Perjanjian Lama, hikmat secara etimologi ada 3 akar kata dalam bahasa Ibrani yaitu : “Hokmah” (hikmat), bina (pengetahuan, dan tevuna (kebijakan). Semuanya menunjuk pada hal praktis, konkrit bukan sekedar teoritis. Hikmat adalah kepintaran mencapai hasil, menyusun rencana yang benar untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Pusat hikmat ialah hati sebagai pusat keputusan moral dan intelektual.

Menurut Paulus dalam Perjanjian Baru, konsep hikmat selalu dikaitkan dengan pemberitaan tentang Yesus. Karena itu ia mendefinisikan hikmat menurut I Korintus 1 dan 2 dalam terang salib kristologinya.

` Dalam Amsal pasal 4 ini terdapat imbauan yang sungguh-sungguh untuk mempelajari hikmat, yaitu tentang kesalehan sejati yang berasal dari didikan-didikan baik yang diberikan ayahnya kepadanya dan diperkuat dengan berbagai alasan yang tepat (ayat 1 – 13). Selain itu peringatan untuk menjauhi pergaulan buruk dan segala persengkokolan dengan pekerjaan kegelapan yang sia-sia (ayat 14 – 1 19), serta arahan khusus untuk memperoleh mempertahankan hikmat dan mengahasilkan buah-buah hikmat itu (ayat 10 – 27).

Melalui firman Tuhan ini kita diingatkan tentang tanggungjawab yang besar sebagai gereja untuk benar-benar dan sungguh menyadari tentang pendidikan sebagai bagain integral dari pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Ia mengingatkan tentang hikmat yang indentik dengan pendidikan dan pengajaran, karena hikmat dapat diperoleh melalui itu semua. Tujuan hikmat adalah mendapatkan kecakapan intelektual dan kemampuan untuk menyusun rencana dan menetapkan keputusan etis dalam kehidupan diri sendiri maupun orang lain.

Melalui bulan pendidikan ini, kita diimbau untuk berpikir bersama, bergumul bersama dan mengambil tindakan bersama yang tepat untuk mencurahkan perthatian penuh pada upaya membangun kesadaran bersama betapa pentingnya pendididkan kkristen bagi kehidupan gereja dan bangsa. Jangan sampai kedepan sekolah-sekolah kriten GMIT hanya jadi “batu nisan” bagi masa depan gereja. Amin.

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Takut akan Tuhan Permulaan Pengetahuan

Diposkan pada

Pemb. Alkitab  :  Amsal 1 : 1 – 7

Amsal dari kata Ibrani masyal yang memiliki arti luas seperti peribahasa, misal, umpama, perumpamaan, ibarat dll. Ciri-ciri Amsal yaitu singkat, padat, mudah diingat, bertolak dari pengalaman nyata berisi nasehat atau mengungkapkan kebenaran umum tentang perilaku manusia serta memiliki tujuan yang praktis. Isinya kadang-kadang berlawanan atau bertentangan dengan kebenaran atau pendapat umum namun kenyataannya mengandung kebenaran. Amsal 1 : 1 – 7 berisikan tentang hikmat, tujuan hikmat dan sumber hikmat.

Kitab Amsal pasal 1 : 1-7 mengajarkan kita beberapa hal :

  1. Pendidikan itu penting dan merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai. Orang yang bijak tidak pernah mersa puas ia selalu ingin belajar.
  2. Tuhan adalah sumber hikmat tertinggi dan benar. Penting bagi manusia untuk hidup untuk takut akan Tuhan sebab hidup yang takut akan Tuhan adalah pangkal akan pengetahuan. Kepandaian dan kemampuan yang ada pada manusia berasal dari Tuhan sumber hikmat. Siapapun yang datang memperoleh hikmat dari padaNya akan memiliki dan menjalani dengan hidup bijaksana, bermoral tinggi dan selaras dengan kehendakNya.
  3. Pendidikan dan pengajaran ilmu menurut paham iman kristen adalah tugas yang diterima dari Tuhan. Norma-norma untuk gereja dan keluarga-keluarga kristen menunaikan tugas tugas pendidikan baik secara formal (melalui pendirian sekolah-sekolah GMIT) maupun non formal (pendidikan dalam keluarga) adalah hormat akan Tuhan sebagai pangkal pegnetahuan.

Jadi takutlah akan Tuhan karena takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.

Amin.

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Hidup Kekal dan Kepedulian

Diposkan pada

Pemb. Alkitab  :  Lukas 10 : 25 – 37  

Orang sombong cenderung untuk menguji apakah orang lain itu lebih pintar dari dia atau tidak, dan cenderung tidak akan pernah mau mengakui kelebihan orang lain apalagi kelebihan itu bertujuan untuk menutupi dan mengisi kekurangan hidupnya. Orang sombong itu banyak kali mengabaikan kata hatinya, lebih banyak menggunakan logika berpikirnya. Dalam membangun relasi, orang sombong cenderung berpikir kebaikan dan kebahagiaan diri sendiri dan suka menggurui orang lain.
Kesombongan dan ingin pamer diri dihadapan Yesus juga menguasai ahli taurat dalam bacaan ini. Dia ingin sekali menunjukan bahwa keahliannya mengusai taurat memperlihatkan kesalehan dan kedekatan hubungannya dengan Allah. Beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Yesus dan dijawab oleh Yesus, justru memperlihatkan kekurangan dan kelemahanya dihadapan Tuhan Alllah sebagai seorang ahli taurat perihal memperoleh hidup kekal dan menjadi sesama yang baik. Yesus mengajarkan kepada ahli taurat melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati.

Yang dapat kita maknai dari pengajaran Yesus melalui cerita perumpamaan ini :

  1. Banyak sekali kita tidak hidup berpegang dan atau mengimplementasikan nilai-nilai dari sebuah hukum atau aturan yang mengatur tatanan hidup bersama. Pertumbuhan gerejapun terkadang tidak berpegang pada tata gerejanya atau kehidupan bergerejanya.
  2. Kita menghadapi realita dalam era demokrasi NKRI tercinta : ada kelompok tertentu atas nama agama dan politik, begitu semangat dan gigih berjuang untuk menggantikan Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dengan dasar dan falsafah yang lain. Hal ini merusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara di NKRI.
  3. Terkadang gereja baik itu para pelaku pelayanan maupun jemaatnya masih menjadi kelompok ortodoks yang mengutamakan aturan dan tradisi gerejawi dari pada kepekaan dan hati yang berbelas kasihan kepada sesama yang membutuhkan, bahkan tertutup hatinya.
  4. Bagaimana supaya orang percaya memperoleh hidup yang kekal? Yaitu memiliki dan mengimplementasikan hukum kasih dalam membangun kepekaan terhadap sesama dan alam ciptaanNya sehingga gereja menjadi penolong dan agen kasih dalam hidup bersama, berbangsa dan bernegara.

Pergilah dan perbuatlah demikian maka engkau akan hidup.

Amin.

Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Diberkati untuk Menjadi Berkat bagi Orang Lain

Diposkan pada

Pemb. Alkitab  :  Ulangan 15 : 1 – 11                  

Pengkhotbah :  Pdt. Judith A. Nunuhitu-Folabessy,MSi

Bulan Juli dimaknai oleh Klasis Kota Kupang sebagai bulan Diakonia. Sepanjang bulan ini, Klasis Kota Kupang bermaksud membangun pemahaman dan aksi iman bersama terkait diakonia. Secara khusus di minggu ke 4 bulan Juli ini kita berkonsentrasi pada tema diberkati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Gereja-gereja dalam Klasis Kota Kupang bertumbuh dan berkembang di tengah-tengah kondisi dan kehidupan masyarakat yang bergumul dengan kemiskinan. Pertanyaannya adalah apakah gereja-gereja di Kota Kupang besar ditengah-tengah jemaatnya yang miskin? ataukah gereja-gereja di Kota Kupang adalah gereja yang bersama jemaatnya yang miskin? ataukah kita adalah gereja yang bersar dari kemiskinan jemaatnya?
Dalam konsteks kehidupan kita saat ini, orang miskin dapat dikategorikan : pertama adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kehidupan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dan kesehatan. Kedua miskin relatif. Miskin relatif yaitu harta benda yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan standar kehidupan kota sehingga kemiskinan menjadi masalah sosial. Ketiga miskin hati yaitu orang yang mampu namun tak punya hati untuk memberi.
Bacaan kita menampilkan potret orang miskin adalah mereka yang tidak mampu membayar hutangnya, yaitu orang yang tidak dapat membayar hutang sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu : pada akhir tahun ketujuh. Tahun ketujuh yaitu tahun penghapusan hutang, adalah jangka waktu terakhir yang diberikan kepada umat yang berhutang, apakah mereka sanggup membayar hutang atau tidak. Penekanan dalam bacaan ini ketika yang berhutang adalah sesama dan saudara yang tidak mampu membayar selama waktu yang ditentukan. Dalam berbagai cara Allah mengungkapakan perhatian besar bagi orang miskin, kekurangan dan tertindas. Ia menjadi pelindung, penolong, pelepas dan pemelihara mereka.

Dalam bacaan ini ada 2 hal penting yang kita maknai :

  1. Sikap memberi adalah wujud mengasihi Tuhan dan sesama.
    Jangan pernah berpikir bawa ketika kita memberi karena kita berlebihan, tetapi karena Tuhan terlebih dahulu telah memberi yang terbaik bagi kita melalui pengorbanan Tuhan Yesus Krsitus untuk menebus dosa kita. Sebenarnya kita adalah orang yang tidak punya, orang miskin, namun kita diperkaya dalam Tuhan, kita menjadi “punya dalam Tuhan” sebab itu dalam memberi dibutuhkan kerenadahan hati dan kepekaan nurani.
  2. Tuhan memberkati kita agar kita menjadi berkat bagi sesama.
    Disini kita dituntut untuk menikmati berkat Tuhan dengan menyatakan kesetiaan padaNya lewat mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang kehidupan orang lain dan kesediaan untuk berbagi dengan mereka dengan cara memberi.Amin.
Share Postingan Ini...
  •  
Renungan Minggu

Jangan Berhenti Berbuat Baik

Diposkan pada

Pemb. Alkitab  :  Galatia 6 : 1 – 10

Salah satu permasalahan yang dihadapai Rasul Paulus dalam jemaat di Galatia adalah adanya orang Yahudi Kristen/Kaum Yudais yang sama kuat memegang Taurat. Mereka berusaha meyakinkan jemaat bahwa keselamatan hanya diperoleh dengan melakukan hukum Taurat khususnya sunat. Dilain pihak ada aggota jemaat yang salah mengartikan kemerdekaan yang dihasilkan melalui pengorbanan Kristus di Salib. Bagi mereka pengorbanan Kristus telah memebasakan dari segala tuntutan hukum sehingga mereka tidak perlu mentaati hukum dan bebas melakukan apa saja tanpa takut pada hukum.
Dalam situasi ini Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan hanya diperoleh karena iman kepada ALlah (Kristus). Orang kristen telah dibebaskan dari hukum Taurat dan menjadi orang merdeka dalam Krsitus (orang yang hidup dalam roh). Oleh karena itu ia mengingatkan bahwa kemerdekaan itu bukanlah kesempatan untuk berbuat dosa, melainkan untuk melayani seorang akan yang lain dalam kasih (melakukan perbuatan baik).
Secara khusus bacaan kita memberi perhatian pada tata kehidupan jemaat salah satunya yaitu pola hidup Mutual ( saling mengisi dan saling membantu) sebagai bagian dari implementasi hukum kasih. Dengan tegas Rasul Paulus menasehati orang-orang kristen di Galatia untuk bertolong-tolongan menanggung beban hidup. Mereka yang kuat imannya harus menolong orang yang lemah imannya. Hal ini dinyatakan dengan kesediaan meolong dan ikut menanggung beban orang yang lemah.

Refleksi dari bacaan kita pada hari ini adalah :

  1. Inti iman Kristen adalah kasih. Allah telah lebih dahulu menunjukan kasihNya kepada dunia dengan memberi PuteraNya Yesus Kristus ( Yoh. 3 : 16)
  2. Allah menghendaki umatMNya hidup dalam kasih dan saling menolong dalam berbagai masalah/beban kehidupan.
  3. Tugas orang kristen untuk memberi perhatian dan kepedulian pada sesama yang berbeban harus didasarkan pada kasih Kristus.
  4. Jangan jemu berbuat baik dan jangan cepat puas dengan kebaikan yang sudah dilakukan.Amin.**
Share Postingan Ini...
  •