Ringkasan Khotbah

Pengelolaan dan Pelayanan Gereja (I Tawarikh 23:1-6)

Renungan ini dikhotbahkan oleh Pdt. Yandi Manobe, S.Th dalam Kebaktian Ekspresif di Jemaat GMIT Kota Baru pada Minggu (16 Februari 2020) pkl. 17.00 WITA

Ada dua alasan yang membuat pengelolaan dan pelayanan gereja itu penting dan harus dilakukan dengan penuh komitmen:

1. Karena Allah yang menyelenggarakan kehidupan peribadahan kita

Saat bangsa Israel keluar dari Mesir dan mengembara di Padang Gurun, Allah menyuruh mereka membuat Tabernakel (kemah pertemuan/kemah suci yang dapat dipindahkan) agar Allah berdiam dalam kehidupan mereka. Tabernakel ini tidak dibiarkan begitu saja tetapi dikelola oleh suku Lewi. Gerson, Kehat dan Merari adalah keturunan Lewi yang dipilih Allah untuk mengurus Tabernakel (Bil. 3:14-37). Masing-masing bertanggung jawab atas tugasnya supaya bangsa Israel dapat beribadah kepada Allah dalam suasana yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya bukan diri kita yang menyelenggarakan ibadah untuk Tuhan tetapi Tuhanlah yang menyelenggarakan ibadah untuk kita. Oleh karena itu, seluruh aktifitas pelayanan harus dikelola bukan saja ibadahnya tetapi administrasinya juga harus dikelola karena setiap orang yang terlibat dalam proses peribadahan berarti dia sedang melangsungkan tugas pelayanan dengan otoritas Tuhan untuk memberitakan kebenaran berdasarkan kehendak Tuhan bukan kehendak diri sendiri.

Dengan demikian, baik para pemimpin gereja maupun jemaat harus tunduk pada aturan pengelolaan pelayanan yang berlaku supaya tidak ada yang merasa dirinya lebih utama dan yang lain diabaikan. Kristus adalah Kepala Gereja dan kitalah anggota-anggota tubuhNya. Tidak ada satupun anggota tubuh yang lebih penting dari anggota tubuh yang lain. Semuanya saling melengkapi dan layak mendapatkan perhatian yang sama. Pengelolaan pelayanan yang baik dan komitmen untuk menaatinya mengajarkan kita untuk mengatur pelayanan secara merata karena semua anggota tubuh Kristus (jemaat) berhak mendapatkan pelayanan yang baik dari Allah.

2. Karena kita adalah bagian dari masyarakat yang harus memberi dampak positif. Itulah buah Kekristenan

Pada masa kepemimpinan raja Daud, dia memberi landasan spiritual dalam kehidupan bangsa Israel yang sekaligus mempengaruhi kehidupan politik mereka. Kedua hal ini saling mempengaruhi karena umat yang beribadah disebut juga sebagai warga kerajaan. Kita disebut sebagai jemaat Tuhan sekaligus sebagai masyarakat. Oleh karena itu, kehidupan kita sebagai jemaat Tuhan diharapkan memberi dampak bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang penataannya dimulai dari gereja.

Namun, untuk memberikan dampak positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Penelitian membuktikan bahwa orang yang hidup 70 tahun lebih banyak menghabiskan waktunya untuk hal-hal di luar peribadahan. Mereka menghabiskan 23-30 tahun untuk tidur, 16 tahun untuk bekerja, 8 tahun untuk nonton, 6 tahun untuk jalan-jalan, 6 tahun untuk makan, 4½ tahun untuk bersantai, 4 tahun untuk sakit yang ringan, 2 tahun untuk berdandan dan hanya 6 bulan untuk beribadah. Penelitian ini menunjukkan bahwa kita belum mengelola kehidupan kita dengan baik sehingga hanya 6 bulan dari total usia kita yang dihabiskan untuk Tuhan dan akibatnya kehidupan peribadahan kita tidak mampu memberi dampak positif bagi orang lain. Hampir semua pemimpin daerah NTT beragama Kristen tetapi NTT menduduki peringkat ke-4 di Indonesia untuk kasus korupsi. Itu artinya, peribadahan kita belum memberi dampak positif.

Daud mengelola pelayanan di Bait Allah melalui 38.000 orang Lewi yang ditugaskan sebagai pengawas pekerjaan di rumah Tuhan, pengatur dan hakim, penunggu pintu gerbang serta para pemuji dan pemain musik agar kepemimpinan Allah tetap mereka alami bukan saja pada saat beribadah tetapi juga di luar peribadahan mereka melalui pengakuan yang benar akan Allah.

Kehidupan peribadahan kita terdiri dari dua bagian yaitu ibadah liturgis (kebaktian minggu, Ibadah Rumah Tangga, Ibadah Kategorial, dsb) dan ibadah raya kehidupan (cara hidup pengikut Kristus dalam kehidupannya sehari-hari). Pengelolaan pelayanan gereja seharusnya diarahkan untuk membangun dan menghidupkan Teokrasi (Kepemimpinan Allah) dalam ibadah liturgis dan ibadah raya kehidupan kita karena melalui kepemimpinan Allah, gereja akan tiba pada pengakuan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya karena Allah yang berkarya. Gereja yang terus bergantung pada manusia, yang kehidupan pelayanannya dikelola bukan untuk menumbuhkan Teokrasi (Kepemimpinan Allah) akan mengalami kegagalan. Gereja harus bergantung pada Allah karena kepemimpinan Allah yang kita bawa dalam persekutuan ini.

Pengelolaan pelayanan untuk membangun dan menghidupkan Teokrasi (Kepemimpinan Allah) juga harus disambut oleh jemaat yang beribadah dengan sikap yang memperlihatkan Tuhan dalam hidupnya bagi orang lain. Itulah ibadah raya kehidupan. Setiap berkat yang kita peroleh dari Allah tersimpan berkat orang lain yang perlu kita bagikan. Jika kehidupan kita belum menjadi berkat bagi orang lain, maka itu berarti bahwa kehidupan peribadahan kita belum berdampak. Jemaat harus merendahkan diri dan menaruh perhatiannya pada Terang Kristus agar pengelolaan dan pelayanan gereja berjalan baik dan memberi dampak positif bagi banyak orang demi kemuliaan Tuhan. AMIN

Dirangkum oleh: Desy Kharisni Jeni Lero, S.Si-Teol., M.Si


Full Video Kebaktian

Share Postingan Ini...
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *